Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pertemuan Nikita Mirzani dan Vino si Bocah Yatim Piatu Imbas Ayah Ibu Meninggal Karena Covid-19


Nikita Mirzani tak tinggal diam, kisah Vino si Bocah Yatim Piatu membuat hati tergerak.

Ya, Vino si Bocah Yatim Piatu berusia 10 tahun. Ia menjadi yatim piatu setelah ayah dan ibunya meninggal karena terpapar Covid-19.

Kini, bocah kelas tiga SD di kampung Linggang Purworejo, Kabupaten Kutai Barat , Kalimantan Timur itu menjalani isolasi mandiri seorang diri di rumahnya.

Ya, Vino si Bocah Yatim Piatu yang tadinya hidup bersama kedua orang tuanya Kini harus tinggal Sebatang Kara.

Vino kehilangan orang tuanya yang sakit karena covid Belum lama ini.

Ia pun harus hidup Sebatang Kara di rumah ayahnya, dalam kondisi harus isolasi Mandiri pasca ditinggal orang tuanya.

Kisah sedih kehidupan bocah Vino ini pun menuai perhatian banyak kalangan tak terkecuali beberapa pabrik figura dan juga kalangan pejabat.

Kali ini, sosok Nikita Mirzani pun turut prihatin atas apa yang dialami Vino.

Melansir dari story instagramnya, Nikita Mirzani pun berniat segera bertemu dengan bocah Vino.

Ya, pertemuan Nikita Mirzani dan Vino si Bocah Yatim rupanya akan segera terealisasi.

"Hai Vino. Kita ktmu sbntr lg yah", kata Nikita.


Seperti yang dilansir Banjarmasinpost.co.id Minggu (25/7/2021) dari TribunSumsel.com dengan judul Nasib Bocah Vino Sebatang Kara Ditinggal Orang Tua Meninggal Karena Covid, Nikita Mirzani Bereaksi.

Kronologi ayah dan ibu Vino dinyatakan positif Covid-19

Diberitakan Kompas.com, kisah keluarga perantauan asal Sragen, Jawa Tengah ini berawal sekira tiga pekan lalu.

Margono, paman Vino menuturkan, saat itu, adiknya Kino mengalami sakit.

Keluarga menduga, dia menderita tipes dan diberi obat karena Kino pernah menderita penyakit itu.

Awalnya, keluarga pun tak mengira jika Kino terpapar Covid-19.

Baca juga: Viral Puluhan Warga Ambil Paksa Janazah Corona di Deliserdang, Mamakku Sakit Jantung Bukan Covid

Sebab, pada 29 Juni 2021, lanjut Margono, adiknya sudah ikut vaksin dosis pertama, sehingga diduga kondisi itu hanya efek vaksin.

Meski kondisinya kurang fit, Kino tetap berjualan pentol keliling dan kehujanan.

Setelah pulang ke rumah, pada hari itu kondisi sakit Kino makin memburuk.

"Makan muntah, makan muntah. Sudah diperiksa medis dan diberi obat, tapi enggak kunjung sembuh," ungkap Margono.

Karena kondisinya terus melemah, akhirnya Kino dibawa ke rumah sakit terdekat, dengan rencana akan dirawatinapkan.

"Tapi, setelah di rumah sakit diperiksa hasil swab positif (Covid-19) tepat 11 Juli. Oleh petugas medis, diberi obat, vitamin, suruh isolasi di rumah," katanya.

Setelah tahu suami positif Covid-19, sang istri, Lina yang sedang hamil lima bulan langsung menjalani tes swab PCR di puskesmas.

Oleh pihak puskesmas, Lina disarankan isolasi di Rumah Sakit Harapan Insan Sendawar, meski belum keluar hasil pemeriksaan PCR-nya.

Alasannya, agar mendapat pendampingan dokter kandungan untuk menjaga kesehatan bayi karena berisiko.

Namun, kondisi Lina yang memiliki riwayat asma terus memburuk.

Sementara Kino yang awalnya dirawat di rumah kondisinya juga menurun hingga harus dilarikan ke RS.

"Di rumah suaminya juga makin drop. Akhirnya dijemput pihak Rumah Sakit Harapan Insan Sendawar biar perawatan di sana," ujar Margono.

Kemudian, Vino juga menjalani pemeriksaan dan dinyatakan positif, hanya isolasi di rumah karena tak bergejala.

"Di saat itulah mereka terpisah. Vino di rumah, ayah dan ibunya di rumah sakit hingga meninggal. Ibunya meninggal 19 Juli, ayahnya 20 Juli," bebernya.

sumber: banjarmasin.tribunnews